Beberapa
pekan ini saya tertarik menelusuri sosok, tepatnya pemikiran, Richard Branson.
Seorang pendiri dan pemilik Virgin Group yang menaungi bisnis maskapai
penerbangan, rekaman, perhotelan, dan lain-lain serta kesemuanya berskala
global. Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha suskses, tapi dunia mengenalnya
sebagai pribadi yang lumayan eksentrik menurut standar awam. Drop out di usia enam belas tahun dan
langsung mendirikan bisnis pertamanya berupa majalah Student ( dan saya pun membayangkan apa yang saya lakukan kala
berusia enam belas tahun ), penderita disleksia ( kesulitan dalam menulis dan
membaca namun uniknya Richard dan krunya justru terkenal selalu mencatat secara
manual momen sekecil apapun ), tidak pernah menjadi karyawan, dan berdasarkan
bukunya yang berjudul The Virgin Way: How
to Listen, Learn, and Laugh, dia sama sekali tidak pernah membaca buku
tentang kepemimpinan dan metode bisnis.
Berawal
dari mem-follow akun twitternya lalu
berlanjut pada laman websitenya, saya menemukan berbagai artikelnya yang unik
dan cara penyampaian yang jujur apa adanya, terutama saat menceritakan berbagai
kegagalannya saat bangkrutnya Virgin Megastore dan Virgin Cola. Sepengamatan
saya, jarang ada yang bersedia terbuka, bahkan hobi, untuk berbagi pengalaman
gagal totalnya.
Saya
bukan seorang pengusaha dan sampai detik ini tidak berminat untuk menjadi
pengusaha. Hingga kini karier yang saya jalani dan nikmati adalah seorang
pengajar di suatu SMP swasta yang baru buka tahun ini. Namun apa yang
disampaikan Richard Branson dalam buku dan artikelnya sesuai dengan orang-orang
dengan profesi apapun, apalagi mereka yang bekerja di suatu lembaga yang
memiliki sistem manajemen. Salah satu yang saya suka ialah ketika disampaikan
bahwa untuk menjadikan perusahaan suskses dan memiliki pelanggan loyal, langkah
pertama yang harus dilakukan ialah memanusiakan para karyawan pada setiap
level. Seringkali kita hanya ingat untuk menuntut para bawahan dan rekan
sejawat agar memberi yang terbaik bagi konsumen dengan dalih konsumen sudah
bersedia mengeluarkan uang. Namun lalai untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi
bawahan dan rekan sejawat (lagi pula, uang sebesar apapun tidak akan pernah
sanggup membeli privasi seseorang, setidaknya ini berlaku untuk diri saya). Kala
para orang-orang internal merasa tidak diperlakukan secara manusiawi maka akan
berdampak munculnya emosi dan stamina negatif sehingga mengakibatkan kinerja
yang buruk saat melayani para konsumen. Pertanda awal manajemen yang rapuh, dan
finalnya ialah kejatuhan, ialah ketika para karyawan dianggap harus taat mutlak
dengan para dewan pimpinan dengan minimnya kesempatan untuk menyuarakan
pendapat, kritik, masukan secara vokal. Kalaupun ada, suara-suara dari bawah
terpantul oleh pintu keramat bertuliskan “Ruang Pimpinan”, “Ruang Dewan
Komisaris”, dan sejenisnya. Kenyamanan para karyawan berdampak pada kualitas
suatu perusahaan. Hukum ini berlaku untuk instansi apapun baik pemerintahan,
industri, yayasan, maupun lembaga pendidikan.
Kesimpulan yang saya pahami, setidaknya hingga
saat ini ialah jika kita ingin tim, pasukan, atau apapun itu, berhasil untuk
tumbuh, berkembang, bahkan menggilas para pesaing, maka kuncinya ialah
memanusiakan semua manusia yang ada dalam tim tersebut. Ya, memanusiakan
manusia.