Sunday, April 3, 2016

Kebenaran dan Adab

Kebenaran dan adab.
Dua kata, dua unsur hakiki dalam perilaku manusia. Dua hal yang membentuk sosok manusia secara utuh.
Kebenaran dan adab.
Seringkali keduanya terlalaikan atau sengaja dilalaikan. Tidak jarang maksud suci keduanya disalahgunakan. Kebenaran yang dilantangkan tanpa adab berbuah tertolaknya kebenaran itu sendiri. Adab dijunjung namun tercemari oleh dusta sehingga menghasilkan kotoran menjijikkan berhias berlian.
Kebenaran dan adab.
Awal sejarah, para Nabi dan Rasul memperjuangkan dua hal ini kepada umat manusia agar terpenuhi syarat sebagai hamba Allah dan khalifah pilihan-Nya di muka bumi. Dua perkara yang tidak habis untuk diperbaiki hingga akhir hayat.
Kebenaran dan adab.
Dua hal yang saling bergantung. Naif jika mengatakan salah satunya boleh ditinggalkan. Akan jadi apa masyarakat tanpa adab? Akan bernasib seperti apakah umat yang tidak bosan melumuri jiwanya dengan kebohongan? Kebenaran tanpa adab bagaikan buah masak namun bertampil busuk. Adab tanpa kebenaran ibarat bangkai berbelatung terbungkus kertas kado  yang indah.
Kebenaran dan adab.
Sudahkah kita memenuhi keduanya?

Memanusiakan Manusia


            Beberapa pekan ini saya tertarik menelusuri sosok, tepatnya pemikiran, Richard Branson. Seorang pendiri dan pemilik Virgin Group yang menaungi bisnis maskapai penerbangan, rekaman, perhotelan, dan lain-lain serta kesemuanya berskala global. Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha suskses, tapi dunia mengenalnya sebagai pribadi yang lumayan eksentrik menurut standar awam. Drop out di usia enam belas tahun dan langsung mendirikan bisnis pertamanya berupa majalah Student ( dan saya pun membayangkan apa yang saya lakukan kala berusia enam belas tahun ), penderita disleksia ( kesulitan dalam menulis dan membaca namun uniknya Richard dan krunya justru terkenal selalu mencatat secara manual momen sekecil apapun ), tidak pernah menjadi karyawan, dan berdasarkan bukunya yang berjudul The Virgin Way: How to Listen, Learn, and Laugh, dia sama sekali tidak pernah membaca buku tentang kepemimpinan dan metode bisnis.
            Berawal dari mem-follow akun twitternya lalu berlanjut pada laman websitenya, saya menemukan berbagai artikelnya yang unik dan cara penyampaian yang jujur apa adanya, terutama saat menceritakan berbagai kegagalannya saat bangkrutnya Virgin Megastore dan Virgin Cola. Sepengamatan saya, jarang ada yang bersedia terbuka, bahkan hobi, untuk berbagi pengalaman gagal totalnya.
            Saya bukan seorang pengusaha dan sampai detik ini tidak berminat untuk menjadi pengusaha. Hingga kini karier yang saya jalani dan nikmati adalah seorang pengajar di suatu SMP swasta yang baru buka tahun ini. Namun apa yang disampaikan Richard Branson dalam buku dan artikelnya sesuai dengan orang-orang dengan profesi apapun, apalagi mereka yang bekerja di suatu lembaga yang memiliki sistem manajemen. Salah satu yang saya suka ialah ketika disampaikan bahwa untuk menjadikan perusahaan suskses dan memiliki pelanggan loyal, langkah pertama yang harus dilakukan ialah memanusiakan para karyawan pada setiap level. Seringkali kita hanya ingat untuk menuntut para bawahan dan rekan sejawat agar memberi yang terbaik bagi konsumen dengan dalih konsumen sudah bersedia mengeluarkan uang. Namun lalai untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi bawahan dan rekan sejawat (lagi pula, uang sebesar apapun tidak akan pernah sanggup membeli privasi seseorang, setidaknya ini berlaku untuk diri saya). Kala para orang-orang internal merasa tidak diperlakukan secara manusiawi maka akan berdampak munculnya emosi dan stamina negatif sehingga mengakibatkan kinerja yang buruk saat melayani para konsumen. Pertanda awal manajemen yang rapuh, dan finalnya ialah kejatuhan, ialah ketika para karyawan dianggap harus taat mutlak dengan para dewan pimpinan dengan minimnya kesempatan untuk menyuarakan pendapat, kritik, masukan secara vokal. Kalaupun ada, suara-suara dari bawah terpantul oleh pintu keramat bertuliskan “Ruang Pimpinan”, “Ruang Dewan Komisaris”, dan sejenisnya. Kenyamanan para karyawan berdampak pada kualitas suatu perusahaan. Hukum ini berlaku untuk instansi apapun baik pemerintahan, industri, yayasan, maupun lembaga pendidikan.
          
            Kesimpulan yang saya pahami, setidaknya hingga saat ini ialah jika kita ingin tim, pasukan, atau apapun itu, berhasil untuk tumbuh, berkembang, bahkan menggilas para pesaing, maka kuncinya ialah memanusiakan semua manusia yang ada dalam tim tersebut. Ya, memanusiakan manusia.